Dorian Gray dalam Phantom of the Paradise: Bagaimana Swan Merefleksikan Kisah Oscar Wilde?

Written by: Kajian 2023

Bandung, Eunofa – Phantom of the Paradise yang disutradarai oleh Brian De Palma (1974) adalah film rock opera yang menggabungkan elemen dari Faust, The Phantom of the Opera, dan The Picture of Dorian Gray. Meskipun banyak yang fokus pada aspek Faustian dalam cerita ini, tokoh Swan, produser musik yang korup, juga dapat dibaca sebagai cerminan Dorian Gray, tokoh ikonik dari novel klasik Oscar Wilde. Keduanya terikat dalam narasi tentang obsesi akan kecantikan, ketenaran, dan konsekuensi moral dari perjanjian dengan kekuatan gelap.

Swan sebagai Dorian Gray Modern

Dalam The Picture of Dorian Gray, protagonisnya adalah seorang pria muda yang dengan tidak sengaja menjual jiwanya demi mempertahankan ketampanan dan kebahagiaannya, sementara lukisan potretnya menanggung semua tanda keburukan dan dosa yang ia perbuat. Di sisi lain, Swan dalam Phantom of the Paradise adalah seorang produser musik yang menolak menua dengan membuat perjanjian supernatural: rekaman video yang merekam dirinya di masa muda menggantikan potretnya, menua dan membusuk seiring waktu, sementara Swan sendiri tetap muda dan tampan. Ini adalah reinterpretasi langsung dari konsep potret Dorian Gray, tetapi dengan media yang lebih modern, yaitu teknologi audiovisual.

Sama seperti Dorian, Swan hidup dalam hedonisme dan dekadensi. Ia mengeksploitasi orang lain untuk kesuksesannya, termasuk Winslow Leach (sang Phantom), Phoenix (sang penyanyi berbakat), dan banyak artis lainnya. Keinginannya untuk mempertahankan kontrol mutlak atas hidup dan ketenarannya membawanya pada kehancuran tragis—sebuah elemen klasik dari cerita Dorian Gray.

Winslow Leach dan Swan Phantom of the Paradise | Foto : IMDb

Kesepakatan dengan Iblis: Faust vs. Dorian Gray

Sering kali, Phantom of the Paradise dianggap sebagai kisah Faustian, di mana Winslow Leach menjual jiwanya untuk mendapatkan kesuksesan musiknya. Namun, karakter Swan lebih dekat dengan Dorian Gray daripada Faust. Faust menjual jiwanya untuk memperoleh pengetahuan dan kekuatan, tetapi Dorian dan Swan menukar moralitas mereka demi kemudaan dan kesenangan tanpa konsekuensi. Hal lain yang membuat Swan lebih dekat dengan Dorian Gray adalah adanya objek yang menggantikan dan menerima keburukan dan dosa-dosa dari dua karakter ini.

Dalam film De Palma maupun novel Wilde, kontrak supernatural yang mereka buat pada akhirnya berujung pada kehancuran mereka sendiri. Dorian menusuk potret dirinya, yang kemudian membunuhnya dan mengembalikan lukisan ke keadaan awal. Sementara itu, dalam Phantom of the Paradise, rekaman yang merekam perjanjiannya diputar dan hancur, menyebabkan Swan kehilangan imortalitasnya dan mati. Keduanya dihukum oleh dosa-dosa mereka sendiri.

Seni, Narsisme, dan Kritik Sosial

Oscar Wilde menggunakan Dorian Gray untuk mengkritik masyarakat yang terobsesi dengan kecantikan dan hedonisme, sedangkan Phantom of the Paradise mengkritik industri musik yang memakan jiwa para seniman demi keuntungan. Swan adalah simbol dari eksploitasi industri hiburan, sama seperti Dorian Gray adalah simbol dari dekadensi kelas aristokrat Inggris.

Baik Wilde maupun De Palma mengingatkan kita bahwa ada harga yang harus dibayar untuk kehidupan yang hanya berorientasi pada kepuasan ego dan penghindaran konsekuensi moral. Keduanya menciptakan karakter yang awalnya tampak tak terkalahkan, tetapi akhirnya dikalahkan oleh keserakahan dan ketidakmampuan mereka untuk menghadapi kenyataan.

Kesimpulan

Brian De Palma berhasil meramu tiga cerita klasik menjadi satu narasi tentang keserakahan, eksploitasi, dan kejatuhan akibat obsesi terhadap popularitas dan keabadian, Dengan gaya visualnya yang khas, kritik tajam terhadap industri hiburan, serta perpaduan musik rock dan horor, Phantom of the Paradise menjadi salah satu film paling unik dalam sejarah sinema dan tetap relevan hingga kini. Swan dalam Phantom of the Paradise bukan hanya sosok Faustian, tetapi juga reinkarnasi modern dari Dorian Gray. Dengan mengganti potret dengan rekaman video, film ini mengadaptasi kisah Wilde untuk mengkritik ketenaran dan industri hiburan yang kejam. Baik dalam novel maupun film, pesan utamanya tetap sama: mencoba menghindari konsekuensi moral dari tindakan kita hanya akan mempercepat kehancuran kita sendiri.

Penulis : Yasmin Meriela Lunggita Prinanto

Share This Article