Review Film Conclave : Lebih layak memenangkan best picture?

Written by: Kajian 2023
8.4 A good watch!
Review Overview

Bandung, Eunofa – Film Conclave disutradarai oleh Edward Berger menjadi salah satu film yang tengah menjadi perbincangan di kalangan pecinta film. Tidak sedikit yang mengatakan bahwa film ini lebih layak untuk mendapatkan gelar best picture dibandingkan film Anora.

Eunofa telah mereview film Conclave. Ditonton pada 4 maret 2025, berikut review yang dapat dibaca. Review ini mengandung spoiler minor mengenai jalan cerita pada bagian awal film.

Best picture Oscar 2025

Ajang penghargaan film paling bergengsi, Oscar, pada saat artikel ini di tulis 4 maret 2025, baru saja mengumumkan pemenang nominasinya. Salah satu nominasi yang paling menjadi perbincangan di kalangan pecinta film adalah nominasi best picture. Best picture, seperti namanya, penghargaan merupakan penghargaan yang dianggap paling prestisius dimana film yang dianugrahi penghargaan ini menjadi film terbaik diantara film-film lain.

Oscar tahun 2025 menobatkan film Anora sebagai pemenang nominasi best picture. Namun, keputusan ini tidak diterima dengan baik oleh para penikmat film. Tidak sedikit yang menyatakan bahwa Anora tidak layak untuk mendapatkan piala tersebut dan film lain lah yang lebih layak untuk mendapatkannya. Salah satu film yang dianggap lebih layak adalah film Conclave karya sutradara Edward Berger.

Logline film Conclave

Setelah kematian Paus yang tak terduga, Kardinal Lawrence seorang petinggi gereja vatikan yang diperankan oleh aktor ternama Ralph Fiennes, ditugaskan untuk mengelola ritual conclave untuk memilih Paus yang baru. di tengah-tengah dilema dalam menentukan Paus yang baru, Lawrence mendapati dirinya berada di antara konspirasi yang dapat menjatuhkan citra gereja dan keagamaan.

Review film Conclave

Conclave | YouTube Focus Feature   

Film ini membawakan cerita yang kompleks dengan tema kekuasaan, keagamaan, dan perubahan. Tiap karakter yang menjadi calon paus baru memiliki agenda dan metode masing-masing untuk meraih posisi sebagi paus baru. Film dengan genre Thriller/Mystery membawa moral dilemma yang dialami oleh Lawrence, dimana sebagai seorang cardinal, ritual conclave ini harus dilaksanakan dengan khidmat dan membiarkan kehendak tuhan menentukan paus tanpa intervensi dari faktor eksternal, tetapi, sebagai pemimpin ritual conclave, ia merasa memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa orang yang menjadi paus haruslah orang yang layak. Maka, ia melakukan investigasi dibantu biarawati dan rekan gereja nya.

cerita ini dibawakan dengan perlahan-lahan, membuat fase film berjalan dengan lambat. hal ini menjadi pisau bermata dua dimana pembawaan cerita ini akan memperkuat sisi misteri, tetapi memiliki resiko untuk kehilangan ketertarikan audiens. Namun, untuk tetap menggapai atensi penonton, film ini berhasil menanamkan pertanyaan-pertanyaan yang menunggu untuk dijawab. Film ini juga penuh dengan dialog yang padat. Hal ini membuat penonton perlu menyimak film dengan penuh konsentrasi.

Film ini memberikan shot-shot cantik yang memperkuat cerita sekaligus efektif untuk menempatkan fokus visual. Salah satu cinematography yang menarik adalah dalam adegan persiapan ritual conclave, Teknik kamera longtake sekaligus orbit yang membawa penonton ke dalam kesibukan yang dijalani karakter.

Scoring dan sound design dalam film ini, menjadi aspek yang sangat kuat dalam memperkuat cerita. sejak awal sampai akhir, scoring yang digunakan menggunakan instrumen gesek seperti viola dan violin dengan nuansa yang tegang yang merasuki tubuh secara perlahan. Sound design menjadi aspek kuat yang tidak hanya mengisi kekosongan audio dalam visual, tetapi juga membawakan aspek cerita dimana visual tidak bisa menunjukkanya.

Penulis : Victoryano Vanza

Review Overview
A good watch! 8.4
Plot 8
Character 7.5
Cinematography 9
Scoring & sound design 9
Share This Article